Bandung, Denting.id – Ketua DPW PKS Jawa Barat, Iwan Suryawan, menyoroti meningkatnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Kalimantan dan Papua. Di sisi lain, ancaman krisis air bersih yang meluas di Jawa Barat dinilai menjadi peringatan penting bagi pemerintah untuk memperkuat penanganan bencana yang berorientasi pada pencegahan.
Menurut Iwan, diperlukan langkah nyata dan respons cepat dari pemerintah agar dampak krisis ekologis tidak semakin mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Ia juga mendesak pemerintah pusat untuk menindak tegas pelaku pembakaran liar serta memperkuat penegakan hukum terhadap kasus karhutla.
“Karhutla di Kalimantan, Sumatra, dan Papua itu duka kami bersama di Jabar. Asap dan krisis ekologis ini merenggut hak hidup sehat saudara-saudara kami, sehingga PKS mendesak pemerintah pusat untuk bertindak tegas terhadap penegakan hukum pembakaran liar dan tidak menjadikan ini sekadar bencana musiman biasa,” ujar Iwan, Minggu (18/10/2026).
Berdasarkan data sistem pemantauan karhutla Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar di Indonesia tercatat mencapai 202.004,30 hektare. Angka tersebut meningkat hingga 69 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, dampak musim kemarau di Jawa Barat turut memicu krisis air bersih yang menjangkau ratusan ribu keluarga.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat sebanyak 215.424 kepala keluarga (KK) di 205 kecamatan terdampak krisis air bersih. Selain itu, terdapat 193 kejadian kebakaran lahan kering dengan total luas mencapai 325,87 hektare.
Baca juga: Iwan Suryawan Usul ASN di Wilayah Terdampak Abu Anak Krakatau Terapkan WFH
Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan pasokan air, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan masyarakat dan meningkatkan risiko kebakaran lahan.
Iwan menilai, penanganan bencana perlu dilakukan secara menyeluruh melalui langkah pencegahan, kesiapsiagaan, dan penegakan hukum. Upaya tersebut diperlukan agar dampak krisis ekologis dapat ditekan dan masyarakat memperoleh perlindungan dari ancaman bencana yang semakin meluas.
Editor: Linna Susanti

