Jakarta, Denting.id – Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan kemungkinan pecahnya kembali perang dengan Amerika Serikat dinilai kecil. Meski begitu, Teheran menegaskan tetap siap memberikan respons keras terhadap segala bentuk serangan.
Pernyataan tersebut muncul sehari setelah Iran menuding AS melanggar gencatan senjata yang telah berlaku sejak April lalu. Iran juga memperingatkan siap melakukan pembalasan menyusul serangan yang disebut sebagai eskalasi paling serius sejak gencatan senjata diterapkan.
Konflik di kawasan Timur Tengah sendiri pecah pada akhir Februari setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Situasi kemudian berkembang cepat ke berbagai front dan mengguncang kawasan, termasuk memicu ketidakstabilan pasar energi global.
Dilansir media Timur Tengah Al Arabiya, Kamis (28/5/2026), Wakil Kepala Politik Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh mengatakan peluang perang kembali terjadi relatif kecil karena kelemahan pihak lawan. Namun demikian, militer Iran disebut tetap berada dalam kondisi siaga penuh.
“Kami menunggu dengan amunisi penuh,” ujar Akbarzadeh.
Ia juga memperingatkan bahwa militer Iran siap menjadikan wilayah sepanjang garis pantai negara itu sebagai “kuburan bagi para agresor”, sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim.
Di sisi lain, Kementerian Intelijen Iran menuduh AS dan Israel masih berupaya menggulingkan pemerintahan Iran serta memecah belah negara tersebut.
Menurut kementerian itu, pihaknya memiliki bukti adanya rencana penyelundupan senjata, amunisi, hingga perangkat komunikasi ilegal, termasuk internet satelit Starlink, ke wilayah Iran. Perangkat tersebut disebut akan digunakan untuk memicu konflik agama dan etnis serta menjalankan aksi sabotase.
Baca juga: Delegasi Iran Tiba di Qatar, Bahas Tuntutan Teheran dalam Negosiasi dengan AS
Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir terus terlibat perang pernyataan di tengah upaya negosiasi menuju kesepakatan damai. Proses mediasi disebut dipimpin oleh Pakistan guna meredam ketegangan di kawasan.

