China Usir Kapal Perang Belanda di Laut China Selatan, Ketegangan Kawasan Memanas

Jakarta, Denting.id – Militer China menyatakan telah mengusir kapal perang milik angkatan laut Belanda yang dituduh “melanggar secara ilegal” wilayah sekitar Kepulauan Paracel di Laut China Selatan yang masih menjadi sengketa.

Beijing diketahui mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, meskipun putusan internasional tahun 2016 menolak klaim tersebut. Sengketa ini terus memicu ketegangan antara China dan sejumlah negara di kawasan.

Dalam pernyataannya, militer China menyebut kapal fregat angkatan laut Belanda, De Ruyter, berulang kali menerbangkan helikopter dari kapal tersebut sehingga dianggap melanggar wilayah udara China.

“Pasukan kami mengambil langkah-langkah seperti peringatan verbal dan pengacakan elektronik untuk mengusir kapal tersebut,” demikian pernyataan militer China seperti dikutip AFP, Kamis (28/5/2026).

China menilai tindakan Belanda telah melanggar kedaulatan teritorial serta keamanan maritim dan udara negara tersebut. Beijing juga menuding langkah Belanda bertentangan dengan hukum internasional dan norma dasar hubungan internasional.

“Tindakan pihak Belanda secara serius melanggar kedaulatan teritorial China serta keamanan maritim dan udara,” tegas militer China.

Pemerintah China pun memperingatkan Belanda agar segera menghentikan tindakan yang dianggap provokatif di kawasan Laut China Selatan.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap situasi keamanan di kawasan Indo-Pasifik. Sebelumnya, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Australia bersama-sama menyampaikan keprihatinan atas situasi di Laut China Selatan dan Laut China Timur.

Keempat negara tersebut mengkritik berbagai tindakan agresif di kawasan, termasuk manuver berbahaya pesawat militer serta aksi pemblokiran dan gangguan terhadap aktivitas maritim.

Baca juga: Trump Gelar Rapat Kabinet Langka di Camp David, Bahas Iran dan Selat Hormuz

Meski tidak secara langsung menyebut nama China, pernyataan bersama negara-negara tersebut dinilai sebagai respons terhadap meningkatnya aktivitas Beijing di wilayah sengketa.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai