JAKARTA, Denting.id – Komika sekaligus aktor Arie Kriting menyoroti penggambaran karakter Indonesia Timur dalam industri perfilman nasional setelah Irma Rihi, pemeran Mak dalam film Na Willa, tidak masuk nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2026 kategori pemeran perempuan.
Kritik tersebut disampaikan Arie melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @arie_kriting, pada Selasa (13/10/2026). Ia mempertanyakan cara industri film menggambarkan karakter dari Indonesia Timur yang menurutnya masih kerap terjebak dalam stereotip kemiskinan, penderitaan, dan kekerasan.
Dalam unggahannya, Arie menilai perspektif yang digunakan untuk menggambarkan masyarakat Indonesia Timur masih sering terbatas pada sudut pandang orang kota.
“Apakah karakternya harus miskin, tersiksa, atau diperkosa dulu baru dianggap?” tulis Arie.
Menurutnya, karakter dari Indonesia Timur tidak seharusnya selalu ditempatkan dalam cerita yang identik dengan kesengsaraan agar dianggap menarik atau layak mendapatkan perhatian. Ia berharap industri perfilman mampu menghadirkan gambaran masyarakat Indonesia Timur secara lebih utuh, dengan beragam pengalaman hidup, kepribadian, dan latar belakang.
Arie juga menyoroti penampilan Irma Rihi dalam film Na Willa. Ia menilai aktris tersebut mampu menghadirkan sosok ibu yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari tanpa menghilangkan identitas budaya yang melekat pada karakternya.
“Cita rasa Indonesia Timur-nya tidak hilang, tapi bukan jadi menu utama. Sehingga saya bisa menikmati sekali akting dia sebagai seorang ibu,” tulis Arie.
Bagi Arie, penampilan Irma menunjukkan bahwa karakter dari Indonesia Timur dapat hadir secara alami dalam cerita tanpa harus menjadikan identitas daerah sebagai satu-satunya unsur yang menonjol.
Ia mengaku sempat berharap Irma masuk nominasi Piala Citra FFI 2026. Meski demikian, Arie menegaskan bahwa kritiknya bukan dimaksudkan untuk menggugat keputusan dewan juri.
Ia justru berharap industri perfilman Indonesia semakin terbuka terhadap keberagaman karakter dan latar belakang para pemain. Menurutnya, aktor dan aktris dari Indonesia Timur perlu mendapatkan ruang apresiasi yang lebih luas, seiring dengan hadirnya cerita yang tidak terus-menerus mengulang stereotip.
Kritik Arie tersebut turut mengangkat persoalan representasi masyarakat Indonesia Timur dalam film nasional, terutama mengenai pentingnya menghadirkan karakter yang beragam dan tidak semata-mata didefinisikan melalui penderitaan.
Editor : Linna Susanti

