Akhir Pekan Jadi Puncak Libur Sekolah, Kebun Raya Tetap Magnet Utama Wisatawan Bogor

Bogor, Denting.id – Momen akhir pekan kemarin (11-12 Juli 2026) menjadi puncak pergerakan wisatawan pada masa libur sekolah tahun ini di kawasan Kota Bogor.

Menjelang dimulainya kembali tahun ajaran baru, arus kunjungan keluarga terpantau memadati sejumlah pusat rekreasi, dengan Kebun Raya Bogor masih kokoh menjadi destinasi favorit di pusat kota.

​Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, menyoroti adanya pola pergerakan wisatawan yang unik dan sudah menjadi kebiasaan lama saat berlibur ke kawasan Bogor.

​”Kalau untuk wisatanya, Kebun Raya Bogor sudah pasti menjadi tujuan utama di kota. Namun, tren yang sering terjadi adalah wisatawan memilih menginapnya di area kota, tetapi aktivitas wisatanya main ke wilayah Kabupaten Bogor. Sentra kulinernya ada di kota, sedangkan destinasi alamnya banyak tersebar di kabupaten,” papar Yuno.

​Tingginya antusiasme masyarakat untuk berlibur ini berdampak positif pada bisnis perhotelan, meski belum sepenuhnya maksimal. Yuno mengungkapkan bahwa tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel di Kota Bogor selama libur sekolah ini rata-rata berada di angka 57 persen.

​”Ada peningkatan kurang lebih sekitar 25 persen sampai 27 persen dari okupansi biasa. Jadi, jika satu hotel memiliki 100 kamar, berarti separuh lebih kamarnya terisi,” jelasnya.

​Kendati demikian, Yuno mengakui bahwa capaian tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan rekor periode libur sekolah dua atau tiga tahun silam. Ia menilai pelemahan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan okupansi tahun ini. Tantangan lainnya adalah persaingan dengan penginapan non-hotel berbasis aplikasi daring.

​Untuk menyiasati kondisi tersebut sekaligus menarik minat masyarakat, 68 hotel yang tergabung dalam PHRI Kota Bogor mengambil langkah taktis. Salah satunya adalah dengan menahan lonjakan harga kamar agar tetap terjangkau.

​”Kami sangat memperhatikan masalah harga. Jangan sampai harga yang ditawarkan justru memberatkan konsumen, sehingga membuat daya beli mereka yang sudah rendah menjadi semakin susah. Selain itu, kami juga bekerja sama dengan pelaku usaha restoran maupun pengelola destinasi wisata untuk membuat paket-paket wisata terpadu,” terang Yuno.

​Guna menjaga kenyamanan dan citra pariwisata Bogor di mata wisatawan, PHRI juga mendorong Pemerintah Kota Bogor untuk terus mengoptimalkan pelayanan publik di sektor pariwisata.

​”Yang pasti adalah dukungan dari pemerintah daerah. Dukungan tersebut bisa berupa menjaga kelancaran lalu lintas, ketertiban, serta kenyamanan bagi para tamu yang berkunjung. Menurut saya, hal-hal itulah yang perlu dioptimalkan,” pungkasnya.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai