Jakarta, Denting.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan mulai frustrasi karena konflik bersenjata melawan Iran tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Kekecewaan itu disebut memuncak lantaran perang berlangsung lebih lama dari perkiraan dan belum memiliki arah penyelesaian yang jelas.
Laporan NBC News menyebutkan Trump meluapkan kemarahannya kepada para penasihat keamanan nasional dalam sebuah rapat pekan lalu. Seorang sumber mengungkapkan bahwa Trump tidak pernah membayangkan akan sesulit ini mendorong Iran menyetujui kesepakatan.
“Presiden frustrasi. Saya rasa dia tidak pernah membayangkan akan sesulit ini membuat Iran menyetujui sebuah kesepakatan. Dia tidak berniat menjadikan ini perang yang panjang,” ujar sumber tersebut, dikutip Anadolu, Kamis (30/7/2026).
Tak hanya menghadapi perlawanan Iran, Trump juga disebut dihadapkan pada perbedaan pandangan yang semakin tajam di antara para pejabat tinggi pemerintahannya terkait strategi jangka panjang menghadapi konflik tersebut.
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan, meski militer Amerika Serikat mengklaim meraih sejumlah kemenangan taktis di lapangan, pemerintahan Trump dinilai belum memiliki arah kebijakan yang jelas untuk mengakhiri perang.
“Setelah sekian lama, tidak ada kesatuan. Kami telah meraih serangkaian kemenangan taktis, tetapi kini menghadapi kekalahan strategis tanpa arahan kebijakan yang jelas,” ujarnya.
Ketegangan di lingkaran dalam Gedung Putih dikabarkan memuncak saat rapat keamanan nasional, di mana Trump disebut sempat memarahi para penasihatnya karena merasa belum mendapatkan solusi konkret atas konflik yang terus berlarut.
Namun, Gedung Putih membantah keras laporan tersebut. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa kabar mengenai kemarahan Trump maupun keretakan internal pemerintahan tidak benar.
“Presiden memiliki tim yang hebat dan dia mempercayai mereka. Semua orang dalam tim mengetahui bahwa dialah pengambil keputusan terakhir,” kata Leavitt.
Leavitt juga menegaskan Amerika Serikat tidak akan melunak terhadap Iran selama Teheran masih dianggap melanggar nota kesepahaman, menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz, serta melakukan tindakan yang mengancam kepentingan AS.
“Presiden tidak akan tinggal diam. Sampai perilaku itu berubah, sikap presiden juga tidak akan berubah. Dia siap sepenuhnya untuk terus menghukum Iran,” tegasnya.
Baca juga: Saudi dan Irak Tegas Tolak Wilayahnya Dipakai untuk Perang AS-Iran
Pernyataan serupa disampaikan Kepala Juru Bicara Pentagon, Sean Parnell. Ia memastikan Departemen Pertahanan AS siap menjalankan setiap instruksi Presiden Trump terkait operasi dan kebijakan terhadap Iran kapan pun diperlukan.

