AS Kirim 25.000 Drone dan Teknologi Anti-Drone ke Timur Tengah

Jakarta, Denting.id – Amerika Serikat (AS) mengirimkan lebih dari 25.000 sistem nirawak atau drone dan teknologi anti-drone kepada pasukan militernya di kawasan Timur Tengah sepanjang 2026.

Pengiriman dalam jumlah besar tersebut dilakukan setelah Pentagon atau Kementerian Pertahanan AS menggelontorkan investasi sebesar US$782 juta atau sekitar Rp14 triliun.

Pentagon mengumumkan pengiriman tersebut pada Rabu (4/11/2026). Langkah ini merupakan bagian dari upaya Washington memperkuat kemampuan militernya dalam menghadapi ancaman serangan drone sekaligus memperluas penggunaan teknologi nirawak di medan perang.

Dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (5/11/2026), pengiriman tersebut mencakup lebih dari 1.300 kendaraan udara nirawak (UAV) untuk serangan satu arah, lebih dari 100 kapal permukaan dan bawah laut nirawak, serta lebih dari 24.000 sistem anti-drone.

Sistem anti-drone tersebut dirancang untuk melindungi pasukan AS dari serangan pesawat nirawak milik pihak lawan.

Pentagon menyalurkan berbagai kemampuan tempur tersebut melalui Direct Reporting Portfolio Manager for Unmanned Systems (DRPM-UxS). Sementara itu, operasi pertahanan anti-drone didukung oleh Joint Interagency Task Force 401.

Pentagon menyatakan program tersebut mencerminkan perubahan strategi pengadaan alat pertahanan AS. Pemerintah kini berupaya mempercepat proses pengadaan sekaligus meningkatkan produksi massal sistem nirawak dengan biaya yang lebih terjangkau.

Penggunaan teknologi tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan kemampuan tempur bagi para komandan militer. Selain itu, sistem nirawak yang lebih murah juga diharapkan mengurangi ketergantungan militer AS terhadap persenjataan konvensional yang membutuhkan biaya besar.

“Di bawah arahan Wakil Menteri (Pete) Hegseth, kami bergerak dengan kecepatan pertempuran modern untuk melengkapi pasukan kami dengan kekuatan yang menentukan dan terjangkau,” kata CEO Project Agincourt sekaligus DRPM-UxS, Owen West.

Pentagon juga mengusulkan pembentukan komando khusus yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Oktober 2027.

Baca juga: Trump Akui Perang Iran Jadi Salah Satu Penyebab Kekalahan Republik di Pemilu AS

Pengiriman sistem nirawak ke Komando Pusat AS (CENTCOM) dipastikan akan terus berlanjut. Pemerintah AS bahkan berencana memperluas penggunaan sistem nirawak dan otonom untuk mendukung pasukan militernya di kawasan Indo-Pasifik, Eropa, serta seluruh Pasukan Gabungan AS.

Langkah tersebut menunjukkan perluasan pemanfaatan teknologi nirawak dalam strategi pertahanan AS, baik untuk operasi serangan maupun perlindungan pasukan di berbagai kawasan.

Editor: Linna Susanti

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai