Jakarta, denting.id – Ketegangan di perairan tidak selalu berakhir dengan konflik. Di Laut Timor, justru kolaborasi yang ditunjukkan. TNI Angkatan Laut bersama Angkatan Laut Australia menggelar latihan manuver kapal dan teknologi survei hidrografi canggih, Jumat, dalam rangka memperkuat kemampuan tempur sekaligus mempererat hubungan kedua negara.
Dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, latihan bersama ini berlangsung di wilayah perbatasan maritim Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kerja sama rutin yang terus dikembangkan oleh kedua matra laut untuk meningkatkan interoperabilitas dan profesionalisme.
Komandan Pushidrosal, Laksamana Madya TNI Budi Purwanto, menjelaskan bahwa TNI AL mengerahkan KRI Spica-934, sementara Australia menghadirkan HMAS Leeuwin A 245. Kedua kapal ini kemudian melaksanakan sejumlah latihan teknis hidrografi, mulai dari multibeam echo sounder (MBES), single beam echo sounder (SBES), side scan sonar (SSS), hingga conductivity temperature depth (CTD).
Tak hanya itu, latihan pengukuran pasang surut, meteorologi, dan pengambilan sampel dasar laut juga digelar untuk menguji kemampuan survei kelautan kedua angkatan laut.
“Selain latihan hidrografi, kedua kapal juga melaksanakan latihan dasar Angkatan Laut seperti flaghoist, flashing light, tactical manoeuvre, officer of the watch, publication exercise, damage control, dan night shipping in convoy,” ujar Budi.
Menurut Budi, seluruh rangkaian latihan berjalan lancar dan menunjukkan kesiapan kedua angkatan laut dalam menghadapi berbagai operasi maritim. Kegiatan selanjutnya akan berlanjut di Kodaeral VII Kupang sebagai bagian dari rangkaian latihan yang lebih luas.
Latihan bersama ini menjadi penegasan bahwa Indonesia dan Australia terus memperkuat kemitraan pertahanan, terutama di wilayah perbatasan yang memiliki dinamika strategis tinggi.

