JAKARTA – Sistem pertahanan udara drone kembali menjadi sorotan setelah laporan menyebut sistem Iron Dome milik Israel kesulitan menghadapi gelombang drone murah yang diluncurkan dari pihak Iran. Serangan drone tersebut dinilai menjadi contoh perang modern yang mengandalkan strategi asimetris dengan biaya jauh lebih rendah.
“Serangan drone dalam jumlah besar dapat membanjiri sistem pertahanan udara yang dirancang menghadapi ancaman terbatas,” ujar analis dari Strategic Intelligence dalam laporan yang menyoroti dinamika konflik teknologi militer tersebut, Minggu (8/3/2026).
Laporan itu menyebut ribuan drone jenis Shahed digunakan sebagai umpan untuk memaksa sistem pertahanan menembakkan rudal pencegat yang jauh lebih mahal. Ketika sistem pertahanan kewalahan menghadapi serangan drone bertubi-tubi, rudal hipersonik seperti Fattah-2 disebut diluncurkan untuk menghantam target militer strategis.
Dalam strategi ini, drone berfungsi sebagai bagian dari taktik yang dikenal sebagai saturation attack, yaitu membanjiri sistem pertahanan dengan ancaman dalam jumlah besar hingga melebihi kapasitas responsnya.
Serangan Drone dan Kerusakan Infrastruktur
Sejumlah laporan intelijen menyebut beberapa fasilitas militer di Israel mengalami kerusakan akibat serangan drone dan rudal tersebut, termasuk landasan pacu di pangkalan udara seperti Nevatim Airbase dan Tel Nof Airbase.
Kerusakan pada landasan pacu membuat pesawat tempur canggih seperti Lockheed Martin F-35 Lightning II sulit melakukan lepas landas. Dalam kondisi tersebut, serangan drone dinilai mampu mengganggu operasi militer tanpa harus terlibat langsung dalam pertempuran udara.
Serangan drone juga dilaporkan berdampak pada beberapa fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk pangkalan di Kuwait dan Qatar.
Efektivitas Perang Asimetris
Pengamat militer menilai penggunaan drone murah dalam jumlah besar menjadi salah satu strategi perang modern yang efektif. Biaya produksi drone yang relatif rendah membuatnya dapat digunakan untuk menguras sumber daya pertahanan musuh.
Dalam perhitungan ekonomi militer, satu drone dapat memaksa sistem pertahanan menembakkan rudal pencegat bernilai jauh lebih mahal. Kondisi ini membuat perang drone sering dianggap sebagai strategi untuk melemahkan logistik lawan.
Selain itu, konflik ini juga memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, terutama di jalur energi global seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi drone kini menjadi faktor penting dalam dinamika konflik modern, di mana strategi sederhana namun efisien dapat menantang sistem pertahanan yang jauh lebih mahal dan kompleks.
