Jakarta, Denting.id – Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan konflik bersenjata dengan Amerika Serikat maupun Israel, namun tetap berkomitmen mempertahankan hak-haknya sebagai negara berdaulat.
Dalam pesan tertulis yang disiarkan melalui televisi pemerintah pada Kamis, Khamenei menyampaikan pernyataan tersebut bertepatan dengan 40 hari wafatnya ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan meninggal dunia pada 28 Februari, bertepatan dengan hari pertama pecahnya konflik di kawasan.
“Kami tidak mencari perang dan tidak menginginkannya,” ujar Khamenei dalam pesan tersebut.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan mengorbankan hak-hak nasionalnya dalam kondisi apa pun. Ia juga menyinggung konsep “front perlawanan” sebagai satu kesatuan, yang diyakini merujuk pada sekutu-sekutu Iran di kawasan, termasuk Hizbullah di Lebanon yang tengah terlibat konflik dengan Israel.
Pernyataan ini muncul di tengah perkembangan diplomatik terbaru, setelah Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut dinilai masih rapuh, namun membuka peluang menuju perundingan damai yang lebih luas, menyusul ancaman keras dari Presiden AS, Donald Trump.
Kepada publik Iran, Khamenei juga menegaskan bahwa partisipasi masyarakat tetap krusial meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Ia menilai suara publik di ruang terbuka dapat memengaruhi jalannya proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Baca juga: Demokrat Ajukan 13 Pasal Pemakzulan Trump Terkait Konflik Iran
Selain itu, Khamenei memperingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap informasi dari media yang disebutnya didukung pihak lawan. Ia mendorong warga untuk tetap waspada di tengah situasi yang masih dinamis dan penuh ketidakpastian.

