MAJALENGKA, DENTING.ID – Kemarau panjang membuat sejumlah warga Desa Pilangsari, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan air bersih.
Salah satunya Warkilah (54). Pria paruh baya itu rutin mengendarai sepeda motor sejauh sekitar 1,5 kilometer untuk mengambil air di sebuah pompa umum di Blok Cipaku, Desa Jatitengah.
Dengan membawa dua jeriken, Warkilah menjalani rutinitas tersebut setiap dua hari sekali. Air dari pompa itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di rumah.
“Ngambil air di sini soalnya di rumah sudah enggak ada air. Kalau dari rumah ke sini jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer,” kata Warkilah saat ditemui di lokasi pompa air, Kamis (6/8/2026).
Menurut Warkilah, sumur di rumahnya sebenarnya sudah mulai mengalami penurunan debit sejak beberapa bulan terakhir. Namun, kondisi semakin parah dalam satu bulan terakhir hingga akhirnya sumur tersebut benar-benar mengering.
Meski harus menempuh perjalanan pulang-pergi dengan membawa jeriken berisi air, Warkilah tetap melakukannya demi memenuhi kebutuhan air bersih keluarganya.
“Saya ambil air rutin setiap dua hari sekali. Yang penting kebutuhan air di rumah untuk istri dan anak-anak tetap terpenuhi,” ujarnya.
Warkilah bukan satu-satunya warga yang bergantung pada pompa tersebut. Sejumlah warga lain juga terlihat mengantre untuk mengambil air menggunakan jeriken dan wadah lainnya.
Pompa air manual yang oleh warga setempat dikenal sebagai “pompa dragon” itu menjadi salah satu sumber air yang masih bisa diandalkan di tengah kemarau.
Menariknya, debit air dari pompa tersebut masih cukup melimpah. Air yang keluar juga tampak jernih dan dapat dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Salah seorang warga lainnya, Ahmad (45), mengaku memanfaatkan air dari pompa tersebut bukan hanya untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Kondisi tersebut membuat pompa air umum menjadi tumpuan warga Desa Pilangsari dan sekitarnya di tengah sumur-sumur rumah yang mulai mengering akibat kemarau panjang.
Bagi warga, perjalanan sejauh 1,5 kilometer bukan lagi persoalan selama masih ada sumber air yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

