PANGANDARAN,Denting.id — Di sebuah kumbung sederhana di Desa Karangpawitan, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, ratusan baglog jamur tiram tersusun rapi di atas rak bambu.
Dari lubang-lubang plastik putih itu, jamur tiram berwarna krem mulai tumbuh. Bagi Iip Nurhidayat (34), setiap baglog bukan sekadar media tanam, tetapi bagian dari proses panjang yang membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan kebersihan.
“Ini sekitar 600 baglog, itu semua akan sampai panen,” ujar Iip saat ditemui Kompas.com, Rabu (5/8/2026).
Iip memilih budidaya jamur tiram karena memiliki dua manfaat sekaligus. Selain menghasilkan bahan pangan yang bisa dipanen hampir setiap hari, usaha tersebut juga memanfaatkan limbah serbuk gergaji kayu yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi.
Manfaatkan Serbuk Gergaji
Baglog yang digunakan Iip dibuat dari campuran serbuk gergaji kayu, bekatul, serbuk jagung, kapur kalsit, dan air.
Jenis kayu yang digunakan juga tidak sembarangan. Menurut Iip, serbuk kayu albasiah menjadi salah satu bahan yang paling baik untuk pertumbuhan jamur tiram.
“Kayunya bebas. Paling bagus itu dan cepat dari kayu albasiah. Itu paling bagus untuk budidaya jamur tiram,” katanya.
Dalam satu kali produksi, Iip menggunakan sekitar 12 bak besar serbuk kayu. Bahan tersebut kemudian dicampur dengan delapan kilogram bekatul, dua kilogram serbuk jagung, dua kilogram kapur kalsit, serta air secukupnya.
Campuran itu tidak langsung dimasukkan ke dalam plastik. Bahan terlebih dahulu didiamkan selama satu hari satu malam agar kelembapannya merata.
“Satu hari satu malam didiamkan itu campurannya dahulu. Baru dipacking ke baglog dibungkus plastik. Baru besoknya disterilisasi terus kemudian dikasih bibit. Menunggu 30 hari baru bisa dipanen,” ujar Iip.
Sterilisasi Jadi Kunci
Setelah campuran dimasukkan ke dalam plastik baglog, tahap berikutnya adalah sterilisasi.
Proses tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam budidaya jamur tiram. Baglog harus dipastikan bersih sebelum diberikan bibit agar pertumbuhan jamur tidak terganggu oleh mikroorganisme lain.
Setelah diberi bibit, baglog kemudian ditempatkan di ruang inkubasi. Kondisi lingkungan harus dijaga agar jamur dapat berkembang dengan baik.
Iip menyebut baglog membutuhkan waktu sekitar 40 hingga 45 hari dalam proses inkubasi dengan suhu ideal berkisar 25-27 derajat Celsius.
Dari kumbung sederhana tersebut, limbah serbuk kayu yang sebelumnya kurang bernilai kemudian diolah menjadi media produksi pangan. Bagi Iip, budidaya jamur tiram menjadi peluang usaha yang sekaligus memberi nilai tambah pada limbah dari aktivitas pengolahan kayu.
