Jakarta, Denting.id – Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan bukti awal yang menunjukkan Rusia kembali menggunakan rudal balistik buatan Korea Utara (Korut) dalam serangan mematikan yang menghantam wilayah Ukraina pada Kamis (30/7/2026).
Serangan tersebut menghancurkan sebuah rumah keluarga di Desa Radushne, Ukraina tenggara, dan menewaskan enam orang, terdiri dari kedua orang tua serta empat anak mereka. Selain itu, empat anak lainnya dilaporkan masih hilang setelah rumah tersebut rata dengan tanah akibat ledakan rudal.
“Rudal Korea Utara telah digunakan oleh Rusia untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu. Tentu saja, pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan, tetapi untuk saat ini kami meyakini itu adalah rudal balistik Korea Utara,” ujar Zelensky, Jumat (31/7/2026).
Meski tidak menyebut tipe rudal yang digunakan, Korea Utara diketahui telah memasok Rusia dengan rudal balistik jarak pendek KN-23 dan KN-24. KN-23 memiliki karakteristik yang mirip dengan rudal Iskander Rusia, sementara KN-24 disebut memiliki kemampuan menyerupai rudal ATACMS buatan Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan intelijen Ukraina pada Juli 2025, Rusia masih memiliki sekitar 50 rudal KN-23, meski penggunaannya disebut menurun dalam beberapa bulan terakhir. Reuters juga melaporkan penggunaan terakhir rudal tersebut oleh Rusia terjadi pada Agustus 2025.
Ukraina pertama kali menuding Korea Utara memasok rudal balistik kepada Rusia pada Januari 2024. Saat itu, Kyiv mengklaim Pyongyang telah mengirim sedikitnya 148 rudal, namun sekitar separuhnya gagal mencapai sasaran karena meledak di udara.
Kementerian Pertahanan Ukraina pada April lalu bahkan menyebut hasil analisis forensik menunjukkan KN-23 diproduksi menggunakan teknologi lama dan memiliki kemampuan di bawah rudal Iskander-M milik Rusia.
Hingga kini belum diketahui apakah rudal yang diduga digunakan dalam serangan terbaru merupakan bagian dari pengiriman baru dari Korea Utara atau telah mengalami peningkatan kemampuan.
Di tengah menguatnya kerja sama militer antara Moskow dan Pyongyang, Ukraina juga memperkirakan Korea Utara akan mengirim tambahan sekitar 30.000 personel untuk membantu pasukan Rusia, setelah sebelumnya mengirim sekitar 10.000 hingga 14.000 tentara pada akhir 2024.
Menyusul serangan tersebut, Zelensky kembali mendesak negara-negara Barat untuk memperkuat pertahanan udara Ukraina, terutama dengan mengirim lebih banyak sistem rudal Patriot guna menghadapi meningkatnya serangan rudal balistik Rusia.
“Yang dibutuhkan bukan hanya simpati dan kecaman, tetapi rudal pertahanan udara serta tekanan terhadap Rusia yang dapat menghentikan perang dan teror ini,” tegas Zelensky.
Baca juga: Saudi dan Irak Tegas Tolak Wilayahnya Dipakai untuk Perang AS-Iran
Pada hari yang sama, Ukraina dan NATO juga melaporkan sebuah rudal yang diduga merupakan rudal jelajah udara Kh-101 milik Rusia jatuh sekitar 96 kilometer di dalam wilayah Polandia dan meninggalkan kawah sedalam sekitar lima meter, sehingga kembali meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya dampak konflik di kawasan Eropa.

