TANGERANG, Denting.id – Musim kemarau ekstrem yang melanda Kabupaten Tangerang, Banten, mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 43 hektare lahan pertanian terancam mengalami gagal panen akibat kekeringan yang berkepanjangan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah mengingat kemarau tahun 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dengan suhu udara yang tinggi.
Berkurangnya curah hujan menyebabkan debit air di saluran irigasi terus menurun sehingga pasokan air ke lahan pertanian tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman.
Selain mengancam produktivitas pertanian, dampak kekeringan juga dirasakan masyarakat. BPBD Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 1.665 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih akibat mengeringnya sumur dan sumber air di sejumlah wilayah.
Kepala BPBD Kabupaten Tangerang mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk meminimalkan dampak kemarau, baik terhadap masyarakat maupun sektor pertanian.
Berbagai langkah penanganan telah dilakukan, di antaranya pendistribusian air bersih ke wilayah yang mengalami krisis air serta pemetaan daerah rawan kekeringan. Sementara itu, dinas terkait juga didorong untuk memberikan pendampingan kepada para petani dalam menghadapi potensi gagal panen.
Ancaman kekeringan yang berkepanjangan dikhawatirkan tidak hanya menurunkan hasil produksi pertanian, tetapi juga berdampak pada pendapatan petani dan ketersediaan pasokan pangan di tingkat lokal apabila tidak segera ditangani.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak selama musim kemarau serta menjaga sumber-sumber air yang masih tersedia.
Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dan memanfaatkan sumber irigasi secara efisien guna mengurangi risiko kerusakan tanaman.
BPBD Kabupaten Tangerang memastikan akan terus meningkatkan koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, serta instansi terkait untuk mempercepat penanganan wilayah yang terdampak.
Langkah antisipatif juga terus disiapkan apabila kondisi kemarau berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, pemerintah berharap dampak kemarau ekstrem terhadap masyarakat dan sektor pertanian dapat ditekan sehingga aktivitas ekonomi, khususnya di bidang pertanian, tetap berjalan dan risiko gagal panen dapat diminimalkan.

