Pakar IPB University Dorong Perluasan Habitat Satwa untuk Cegah Konflik dengan Manusia

Bogor, Denting.id — Perlindungan satwa liar tidak cukup hanya saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi. Satwa juga membutuhkan habitat yang memadai untuk bertahan hidup dan berkembang.

Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, mendorong penguatan dan perluasan habitat penting bagi satwa liar melalui kawasan konservasi.

Menurutnya, satwa membutuhkan ruang hidup, sumber makanan, dan sumber air yang memadai. Ketersediaan ketiganya membantu satwa bertahan di habitat alaminya.

Kerusakan Habitat Dorong Satwa Keluar

Dr Mustari menjelaskan bahwa karhutla dapat merusak habitat satwa secara luas. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri kemudian mencari kawasan baru untuk bertahan hidup.

Mereka dapat berpindah ke hutan sekunder. Satwa juga dapat memasuki kawasan yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman manusia.

“Satwa yang berhasil menyelamatkan diri akan menghadapi hilangnya habitat, sumber makanan, dan air. Mereka kemudian mencari habitat sementara, seperti hutan sekunder atau kawasan yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman,” ungkapnya.

Perpindahan tersebut dapat meningkatkan konflik antara satwa liar dan manusia. Satwa yang kehilangan ruang hidup alami akan mencari makanan dan air di kawasan yang manusia manfaatkan.

Dr Mustari menilai masyarakat perlu melihat kondisi tersebut sebagai persoalan pengelolaan habitat. Menurutnya, satwa tidak selalu keluar dari habitatnya karena perilakunya sendiri.

“Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,” jelasnya.

Banyak Satwa Kehilangan Ruang Hidup

Sejumlah satwa dapat terdampak ketika karhutla merusak habitat. Kelompok tersebut antara lain orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir.

Hilangnya habitat mengurangi ruang hidup satwa. Kondisi itu juga mengganggu fungsi ekologis ekosistem.

Menurut Dr Mustari, proses pemulihan habitat membutuhkan waktu yang panjang. Tumbuhnya kembali vegetasi belum cukup untuk memulihkan ekosistem secara utuh.

Jaring dan rantai makanan juga membutuhkan waktu untuk terbentuk kembali. Karena itu, ekosistem yang telah mengalami pemulihan belum tentu kembali seperti kondisi sebelumnya.

Perkuat Kawasan Konservasi

Dr Mustari menilai pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menempatkan perlindungan habitat sebagai bagian penting dari strategi konservasi. Mereka perlu mencegah kerusakan sekaligus memperkuat kawasan yang menjadi ruang hidup satwa.

Kawasan konservasi dapat mendukung upaya tersebut. Taman nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa dapat menyediakan ruang hidup yang lebih aman bagi satwa liar.

Perlindungan dan perluasan habitat dapat mengurangi tekanan terhadap satwa. Langkah tersebut juga dapat mengurangi kemungkinan satwa memasuki kawasan aktivitas manusia.

Selain memperluas habitat, Dr Mustari menekankan pentingnya pencegahan karhutla dan penegakan hukum secara tegas. Menurutnya, upaya mencegah kerusakan habitat lebih efektif daripada menangani dampaknya setelah kebakaran terjadi.

“Lebih baik mencegah daripada bereaksi dan panik saat terjadi kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.

Cegah Konflik Sejak dari Habitat

Perlindungan habitat satwa tidak hanya menjaga keanekaragaman hayati. Upaya tersebut juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem.

Habitat yang aman memberi satwa ruang untuk mencari makanan, air, dan tempat berlindung. Kondisi itu sekaligus dapat mengurangi pertemuan antara satwa liar dan manusia.

Karena itu, penguatan kawasan konservasi dan pencegahan karhutla perlu berjalan bersama. Langkah tersebut menjadi bagian penting untuk menciptakan ruang hidup yang lebih aman bagi satwa dan manusia. (dr)

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai