Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Menyebar ke Lima Provinsi

Jakarta, Denting.id – Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar ke sejumlah wilayah di lima provinsi. Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti perkembangan informasi resmi pemerintah.

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Lana Saria mengatakan, sebaran abu vulkanik terpantau menuju Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, hingga Bengkulu.

“Dan berdasarkan gabungan informasi erupsi dan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dari PVMBG melalui Magma Indonesia, informasi VAAC (Volcanic Ash Advisory Centre) Darwin serta analisa citra satelit Himawari-9 oleh BMKG, bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, dan juga DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu,” ujar Lana dalam konferensi pers daring, Minggu (6/9/2026).

Menurut Lana, arah dan jangkauan sebaran abu vulkanik masih dapat berubah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin maupun faktor cuaca.

Karena itu, Kementerian ESDM mengimbau masyarakat untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik.

“Arah dan jangkauan sebaran abu dapat berubah bergantung pada arah dan kecepatan hujan abu. Oleh karena itu, seperti yang tadi saya sampaikan, diimbau untuk tidak beraktivitas di luar ruangan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah,” katanya.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau Meningkat

Badan Geologi juga terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Lana menjelaskan, peningkatan aktivitas gunung tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak Juli 2026.

Aktivitas erupsi kemudian mencapai tingkat tertinggi pada Sabtu (5/9/2026).

“Kita sedang dilanda erupsi gunung berapi, Gunung Anak Krakatau, di mana gunung ini mulai aktif sebenarnya dimulai Juli 2026 dan aktivitas tertinggi ada di tanggal kemarin 5 September 2026,” ujar Lana.

Ia menyebut peningkatan aktivitas tersebut ditandai dengan erupsi yang terjadi berulang kali dan berlangsung secara menerus.

“Kita tentunya ada beberapa kekhawatiran terhadap aktivitas dari Gunung Krakatau bahwa aktivitas Gunung Krakatau saat ini memang meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai oleh erupsi yang berulang dan berlangsung secara menerus,” lanjutnya.

Meski demikian, Lana menegaskan erupsi yang terjadi berulang tidak serta-merta menunjukkan Gunung Anak Krakatau akan mengalami erupsi yang lebih besar.

Badan Geologi terus melakukan evaluasi berdasarkan seluruh data pemantauan aktivitas gunung, termasuk kondisi magma dan gas di dalam tubuh gunung.

“Kondisi tersebut menunjukkan adanya suplai magma dan gas dalam tubuh gunung yang masih berlangsung. Namun erupsi yang sering tidak otomatis ini berarti memang akan terjadi erupsi yang lebih besar,” katanya.

Lana menambahkan, pemantauan tidak hanya dilakukan berdasarkan jumlah maupun tinggi kolom erupsi. Badan Geologi akan terus mengevaluasi seluruh parameter aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk menentukan perkembangan kondisi terkini.

Baca juga: Kejagung Tegaskan Kasus Korupsi Nikel PT CNI Tetap Berlanjut Meski Rp401 Miliar Dikembalikan

“Maka Badan Geologi tentunya akan terus mengevaluasi perkembangan aktivitas berdasarkan seluruh data pemantauan. Bukan hanya berdasarkan jumlah atau tinggi kolom erupsi,” imbuhnya.Kalau mau, saya juga bisa buatkan 3-5 alternatif judul yang lebih singkat dan lebih menarik untuk portal berita.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai