Rokhmin Dahuri Jajaki Kerja Sama Industri Oyster Indonesia-China

Jakarta, Denting.id — Anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, melakukan kunjungan kerja sama ke MATA Ecology Company di Provinsi Fujian, China. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperkuat komunikasi dan penjajakan investasi Indonesia-China di sektor kelautan dan perikanan, khususnya pengembangan industri oyster terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Dalam kunjungan tersebut, Rokhmin didampingi delegasi Indonesia dari PT Surya Jaya Investama (SJI), yang diproyeksikan menjadi mitra lokal MATA Ecology di Indonesia.

MATA Ecology merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri oyster terpadu dengan model bisnis yang mengintegrasikan seluruh rantai produksi, mulai dari pembenihan atau hatchery, pembesaran dan budidaya (rearing/farming), pengolahan (processing), hingga pemasaran (marketing).

Model tersebut menghubungkan kegiatan pembenihan, budidaya di laut, pengolahan hasil, pengembangan produk bernilai tambah, hingga pemasaran dalam satu ekosistem industri.

Pada Minggu (20/9/2026), Rokhmin bersama delegasi PT SJI melakukan kunjungan lapangan ke kawasan laut untuk melihat langsung area budidaya oyster MATA Ecology serta kondisi ekologi perairan.

Rombongan juga meninjau sejumlah fasilitas pengolahan di kawasan sekitar untuk memahami keterkaitan antara kegiatan budidaya di laut dengan proses pengolahan dan hilirisasi produk oyster di darat.

Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai penerapan industri oyster yang mengintegrasikan produktivitas akuakultur, kualitas lingkungan perairan, pengolahan hasil, pemanfaatan produk, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan nilai tambah ekonomi secara berkelanjutan.

Selanjutnya, pada Senin (21/9/2026), Rokhmin dan delegasi mengunjungi fasilitas industri pengolahan MATA Ecology Company, termasuk Ecological Workshop dan Aquatic Product Workshop.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan in-house discussion untuk membahas teknologi budidaya, industri pengolahan, model bisnis, inovasi produk, serta peluang penerapan dan pengembangan model industri oyster terpadu di Indonesia.

Sejak berdiri pada 2011, MATA Ecology disebut mampu memproduksi sekitar 350.000 ton daging oyster dan 6,5 juta ton bio-fertilizer berbahan cangkang oyster setiap tahun. Perusahaan tersebut juga memanfaatkan kegiatan budidaya oyster dan penggunaan bio-fertilizer untuk pertanian dalam skema perdagangan karbon (carbon trading).

Selain itu, MATA Ecology disebut telah mempekerjakan sekitar 100.000 orang.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari penjajakan rencana investasi MATA Ecology di Indonesia. Perusahaan asal China itu tengah merencanakan investasi pertamanya di Banyuwangi, Jawa Timur, untuk mengembangkan industri oyster yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Rencana investasi tersebut tidak hanya mencakup kegiatan budidaya, tetapi juga pengembangan rantai industri lengkap yang meliputi hatchery, budidaya, pengolahan, hilirisasi, pemasaran, pemanfaatan produk samping, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Rokhmin menilai Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk menjadi salah satu pusat akuakultur dunia. Namun, potensi tersebut perlu dikembangkan melalui industrialisasi perikanan dari hulu hingga hilir.

Menurut dia, pengembangan industri perikanan perlu ditopang inovasi teknologi, produktivitas dan efisiensi, keberlanjutan ekologi, penciptaan nilai tambah, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Keterlibatan PT Surya Jaya Investama diharapkan dapat memperkuat dan mempercepat proses penjajakan serta tindak lanjut kerja sama investasi antara MATA Ecology dan Indonesia, khususnya untuk merealisasikan rencana pengembangan industri oyster di Banyuwangi.

Selain Banyuwangi, MATA Ecology juga membuka peluang investasi di sejumlah daerah lain di Indonesia yang dinilai memiliki kondisi ekologi, sosial ekonomi, dan politik yang mendukung. Beberapa wilayah yang disebut antara lain Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Aceh, dan Sulawesi Tenggara.

Baca juga: Menteri ESDM Percepat Penguatan Industri Baterai EV, Impor Litium dari Australia Jadi Opsi

Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun industri oyster yang terintegrasi, berkelanjutan, dan inklusif, mulai dari pembenihan hingga pemasaran, sekaligus membuka peluang peningkatan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat Indonesia.Kalau mau, saya juga bisa buatkan 5–10 alternatif judul yang lebih singkat dan lebih menarik untuk portal berita.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai