Jakarta, Denting.id – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat disebut segera memasuki fase akhir setelah proposal perdamaian antara kedua negara mulai beredar. Dalam rancangan kesepakatan tersebut, Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk pelayaran komersial, sementara Amerika Serikat disebut akan menarik pasukannya dari kawasan Teluk dan sekitar wilayah Iran.
Kantor berita Iran, Mizan, melaporkan bahwa proposal tersebut menjadi bagian dari proses perdamaian berlapis yang tengah dibahas kedua pihak.
“Amerika telah berkomitmen untuk menarik pasukan militernya dari lingkungan sekitar Iran, apakah ini termasuk pasukan yang ditempatkan di wilayah tersebut atau pasukan yang ditempatkan di pangkalan memerlukan negosiasi,” demikian laporan Mizan seperti dikutip Al Jazeera.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa apabila kesepakatan final tercapai dalam waktu 60 hari, maka perjanjian tersebut akan disahkan dalam bentuk resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bersifat mengikat.
Sementara itu, televisi pemerintah Iran mengungkapkan bahwa Teheran telah menerima draf awal tidak resmi berupa nota kesepahaman dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang.
Dalam kerangka kerja tersebut, Iran disebut akan memulihkan aktivitas pelayaran komersial melalui Selat Hormuz ke tingkat sebelum perang dalam waktu satu bulan. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat akan menarik pasukan militernya dari sekitar Iran dan menghentikan blokade angkatan laut.
Draf tersebut juga mengatur bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz nantinya akan dikelola oleh Iran dengan koordinasi bersama Oman. Namun, kapal militer Amerika Serikat tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan pelayaran tersebut.
Meski demikian, media Iran menegaskan bahwa proposal tersebut masih bersifat awal dan belum final. Pemerintah Iran disebut tidak akan melanjutkan kesepakatan tanpa adanya “verifikasi nyata” atas komitmen yang disampaikan pihak Amerika Serikat.
Baca juga: Netanyahu Gelar Rapat Darurat, Israel Bahas Kemungkinan Perang Kembali Pecah dengan Iran
Jika benar terealisasi, kesepakatan ini berpotensi menjadi titik penting dalam meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah yang selama ini dipenuhi konflik geopolitik dan ancaman terhadap jalur perdagangan energi dunia.

