Jakarta, Denting.id – Jumlah tentara Israel yang tewas sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023 diklaim telah mencapai hampir 1.000 orang. Korban tersebut mencakup operasi militer Israel di Gaza, serta konflik yang meluas ke Lebanon, Suriah, Yaman, dan Iran.
Mengutip Anadolu Agency, data militer Israel menunjukkan sedikitnya 966 tentara telah tewas sejak dimulainya perang Gaza. Tel Aviv diketahui memperluas operasi militernya ke sejumlah kawasan di Timur Tengah setelah melancarkan agresi ke Jalur Gaza.
Namun, belum diketahui apakah angka tersebut mencakup tentara yang meninggal akibat bunuh diri.
Di tengah konflik yang berkepanjangan, krisis kesehatan mental di tubuh militer Israel (IDF) dilaporkan semakin memburuk. Media Israel Haaretz melaporkan sedikitnya 16 tentara Israel bunuh diri sepanjang Januari hingga Juli tahun ini, termasuk dua personel wanita.
Kematian dua tentara wanita tersebut kini tengah diselidiki oleh Divisi Investigasi Kriminal Polisi Militer Israel (Military Police Criminal Investigation Division).
Kasus bunuh diri di kalangan personel IDF terus meningkat sejak perang Gaza dimulai. Hasil investigasi militer Israel menyebut mayoritas kasus berkaitan langsung dengan trauma akibat pertempuran, paparan kekerasan di medan perang, serta tekanan psikologis yang dialami selama bertugas di Gaza.
Menurut laporan Haaretz, hampir 50 tentara Israel dilaporkan bunuh diri sejak Oktober 2023. Rinciannya, terdapat 17 kasus pada 2023, termasuk tujuh setelah perang Gaza pecah, kemudian 24 kasus pada 2024, dan 17 kasus lainnya pada 2025.
Sementara itu, lembaga penyiaran publik Israel, KAN, menyebut sebanyak 16 tentara mengakhiri hidupnya sejak awal tahun. Setiap kasus disebut menjalani penyelidikan menyeluruh, termasuk pemeriksaan surat perpisahan dan wawancara dengan keluarga maupun rekan korban.
Baca juga: Uganda Resmikan Monumen Kakak PM Israel, Kenang Operasi Entebbe 1976
Temuan investigasi menunjukkan sebagian besar kasus bunuh diri dipicu oleh paparan pertempuran berkepanjangan, pengalaman traumatis di medan perang, serta tekanan mental akibat kehilangan rekan sesama tentara selama konflik berlangsung.

