Jakarta, Denting.id – Pemerintah Uganda meresmikan monumen untuk mengenang Yonatan Netanyahu, kakak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang gugur dalam Operasi Entebbe pada 1976. Peresmian dilakukan pada Sabtu (1/8/2026), bertepatan dengan peringatan 50 tahun operasi penyelamatan sandera yang menjadi salah satu misi militer paling terkenal dalam sejarah.
Dilaporkan BBC, Panglima Angkatan Pertahanan Rakyat Uganda Jenderal Muhoozi Kainerugaba, putra Presiden Yoweri Museveni, mengatakan monumen tersebut dibangun sebagai penghormatan atas keberanian dan pengabdian Yonatan Netanyahu.
Monumen itu berdiri di luar terminal lama Bandara Internasional Entebbe, lokasi operasi penyelamatan berlangsung. Patung Yonatan digambarkan sedang melangkah maju sambil membawa senapan mesin.
Operasi Entebbe dilakukan setelah pesawat Air France yang berangkat dari Tel Aviv dibajak oleh dua warga Palestina dan dua warga Jerman pada 27 Juni 1976. Pesawat dipaksa mendarat di Uganda setelah sempat singgah di Athena dan mengisi bahan bakar di Libya.
Para pembajak menuntut tebusan sebesar 5 juta dolar AS serta pembebasan 53 militan yang ditahan di sejumlah negara, termasuk Israel, Prancis, Jerman, Swiss, dan Kenya. Sebagian sandera dibebaskan, tetapi warga Israel dan orang-orang Yahudi tetap disandera.
Pada 3 Juli 1976, pasukan komando elite Israel melancarkan operasi penyelamatan yang berlangsung kurang dari 90 menit. Lebih dari 100 sandera berhasil dibebaskan, namun Yonatan Netanyahu menjadi satu-satunya prajurit Israel yang tewas dalam misi tersebut.
Selain itu, tiga sandera, yakni Jean-Jacques Mimouni, Pasco Cohen, dan Ida Borochovitch, turut kehilangan nyawa. Sementara Dora Bloch, yang sedang dirawat di rumah sakit Kampala, kemudian dibunuh aparat Uganda sebagai aksi balasan atas operasi tersebut.
Dalam pertempuran itu, seluruh pembajak dan tiga orang yang membantu mereka di Uganda tewas. Sedikitnya 45 tentara Uganda juga dilaporkan gugur.
Kainerugaba menyebut Operasi Entebbe sebagai salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah modern sekaligus babak yang menyakitkan bagi Uganda. Ia juga mengenang para tentara Uganda yang bertempur saat itu, meski mengakui mereka berada di bawah rezim diktator Idi Amin.
“Semoga kenangan tentang mereka terus menginspirasi generasi mendatang dalam memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan martabat manusia,” ujar Kainerugaba.
Ia menambahkan bahwa hubungan Uganda dan Israel kini telah berkembang menjadi kemitraan yang didasarkan pada saling percaya, saling menghormati, dan kerja sama, jauh berbeda dibanding situasi yang terjadi setengah abad lalu.
Baca juga: Serangan Israel di Gaza Tewaskan 8 Warga, Klaim Dua Komandan Hamas Tewas
Benjamin Netanyahu sendiri pernah mengunjungi Entebbe satu dekade lalu. Dalam kesempatan itu, ia mengenang sang kakak dengan mengatakan bahwa untuk mengalahkan terorisme dibutuhkan dua hal, yakni kejelasan tujuan dan keberanian.

